Senin, 08 Mei 2017

Pemeriksaan alat usap makan


     

LAPORAN PEMERIKSAAN CONTOH USAP MAKAN
     
 OLEH 
                          Anisa pratiwi           :  PO7.14.221.151.005
      DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM
        Khiki purnawati kasim, S.St.,M.Kes
   
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D-IV
 
 
 

A. Latar Belakang 
 Makanan adalah sumber energi satu-satunya bagi manusia. Karena jumlah penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan. Hal ini tidak boleh terjadi atau tidak dikehendaki karena orang makan itu sebetulnya bermaksud mendapatkan energi tetap dapat bertahan hidup, dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting (Slamet, 2009).
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya keracunan dan penyakit pada manusia. Dengan demikian, tujuan sebenarnya dari upaya sanitasi makanan, antara lain menjamin keamanan dan kebersihan makanan, mencegah penularan wabah penyakit, mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat, dan mengurangi tingkat kerusakan atau pembususkan pada makanan.
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higiene perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih (Chandra, 2006).
Peranan peralatan makanan dalam pedagang makanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip penyehatan makanan (Food hygiene). Setiap peralatan makan (piring, gelas, sendok) harus selalu dijaga kebersihannya setiap saat digunakan. Alat makan (piring, gelas, sendok) yang kelihatan bersih belum merupakan jaminan telah memenuhi persyaratan kesehatan, karena didalam alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tercemar bakteri E.coli yang menyebabkan alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tidak memenuhi kesehatan. Untuk itu pencucian peralatan sangat penting diketahui secara mendasar, dengan pencucian secara baik akan menghasilkan peralatan yang bersih dan sehat pula. Dengan menjaga kebersihan peralatan makan (piring, gelas, sendok), berarti telah membantu mencegah pencemaran atau kontaminasi makanan yang dikonsumsi (Djajadinigrat, 1989 dalam Pohan, 2009).


n    B. Tujuan
a.       Agar dapat diketahui tingkat kebersihan dari alat makan dan masak.
b.      Agar dapat menetapkan petugas dalam melakukan pengawasan.
c.       Memberikan data untuk feed back (umpan balik) kepada pengusaha.
               C. Alat dan bahan
1.      Kapas lidi steril (lidi water),yaitu lidi yang pada ujungnya dilipat kapas.
2.      Sarung tangan steril/bersih.
3.      Spidol huruf kecil.
4.      Formulir pengambilan untuk pemeriksaan Lab.
5.      Gunting kecil.
6.      Kertas cellotape.
7.      Lampu spirtus.
8.      Termos es.
9.      Tas pembawa contoh.
10.  Buku harian pengambilan contoh.
11.  Sabun desinfektan.

B.     Cara kerja.
1.      Persiapkan sarung tangan yang steril atau bisa dengan membasahi tangan dengan menggunakan alkohol agar tangan menjadi steril.
2.      Alat makan yang akan diperiksa masing – masing diambil 4 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat penyimpanan.
3.      Persiapkan catatan formulir pemeriksaan dengan membagi alat makan dalam kelompok – kelompok
4.      Persiapkan lidi kapas steril, kemudian buka kapas penutup tabung reaksi yang berisi air pepton.
5.      Plumbir bagian ujung dari tabung reaksi tersebut, kemudian masukkan lidi kapas steril ke dalamnya.
6.      Lidi kapas steril dalam tabung reaksi ditekan ke dinding tabung untuk membuang /memeras airnya, lalu angkat dan diusapkan pada setiap alat – alat makan yang diusapkan sampai selesai.
7.      Permukaan tempat alat makan yang diusap, yaitu:
a)  Cangkir dan gelas       : permukaan luar dan dalam bibir sedalam 6 mm
b)  Sendok                        : permukaan bagian luar dan dalam seluruh sendok 
c)  Garpu                          : permukaan bagian luar dan dalam alat penusuk
d)  Piring                           : permukaan dalam tempat makanan diletakkan  
e)  Mangkok                     : permukaan dalam tempat makanan diletakkan
       8.  Cara melakukan usapan :
a)  Pada cangkir dan gelas dengan usapan mengelilingi bidang permukaan.
b)  Pada sendok dan garpu dengan usapan seluruh permukaan luar dan dalam.
c)  Pada piring dengan 2 usapan pada permukaan tempat makanan dengan menyilang siku – siku antara usapan yang satu dengan garis usapan kedua dan menggunakan luas jendela untuk mewakili dari luas seluruh permukaan piring.
9. Setiap bidang permukaan yang diusap dilakukan 3 kali berturut – turut dan satu lidi kapas digunakan untuk satu kelompok alat makan yang diperiksa.
10. Setiap hasil mengusap 1 alat makan dari sau kelompok selalu dimasukkan ke dalam botol cairan di putar – putar dan ditekan ke dinding, demikian dilakukan berulang – ulang sampai semua kelompok diambil usapannya.
11.   Pada usapan peralatan makan, setiap usapan alat harus mencapai luas sekitar 8 inchi persegi atau 50 cm 2 dan dilakukan 5 kali (tempat) sehingga cukup mencapai luas 40 inchi atau 256 cm2
12.    Setiap satu kelompok menggunakan 1 lidi kapas sebab yang diusapkan dengan cara seperti no.11 di atas.
13. Setelah kelompok alat makan atau luas permukaan peralatan masak diusap, lidi kapas dimasukkan ke dalam botol, lidinya dipatahkan atau digunting, dan bibir tabung dipanaskan dengan api spritus, lalu ditutup kembali dengan kapas penutupnya.
14.   Tempelkan kertas label yang telah dipersiapkan, tulis nama jenis alat makan yang telah diusap. Untuk nama pengambil, tempat pengambilan, dan tujuan pengambilan sampel ditulis dibuku catatan yang telah disiapkan oleh pengambil.
15.   Kirimkan segera ke laboratorium dengan suhu dingin untk diperiksa. Bila tidak dapat dikirim segera, disimpan dalam tempat penyimpanan dingin.

*      Pemeriksaan Angka Lempeng Total
1.      Siapkan larutan pengencer NaCl 0,85% sebanyak masing – masing 2 tabung  dan 2 buah petridish yang diberi kode 101 dan 102  dan kontrol.
Catatan : Pengenceran yang digunakan adalah pengenceran 101 dan 10 2 sehingga yang digunakan yaitu:
2 tabung dan 2 petridish  untuk piring
2 tabung dan 2 petridish  untuk gelas
2 tabung dan 2 petridish  untuk sendok
2 tabung dan 2 petridish  untuk garpu
2.      Ambil 1 ml larutan pengencer NaCl dengan pipet steril pada tabung kode kontrol dan masukkan ke dalam petridish yang juga berkode kontrol.
3.      Ambil 1 ml sampel dengan pipet steril pada tabung yang berkode 101(untuk satu jenis alat makan) dengan dengan pipet lepas sebanyak ±25 kali dan tidak boleh ditiup.
4.      Pipet 2 ml dari tabung tadi (yang berkode 101)  dan masukkan ke dalam petridish yang berkode 101 (untuk satu jenis alat makan) dan 1 ml sisanya ke tabung 102 lalu pipet lepas sebanyak ±25 kali
5.      Pipet 1 ml dari tabung 102 masukkan ke petridish yang sudah diberi kode 102.
6.      Tuangi petridish yang berisi sampel dengan nutrien agar 55˚C – 56˚C sebanyak ±15 ml
7.      Digoyang-goyang agar rata dan biarkan beku
8.      Balik petridish dan masukkan ke dalam inkubator untuk dieramkan dengan suhu 37˚C selama 1 x 24 jam

*      Pembacaan Hasil danPerhitungan ALT / Angka Kuman
1.      Keluarkan petridish yang berisi sampel yang telah dieramkan selama 1 x 24 jam
2.      Hitung jumlah kuman yang berbentuk bulatan pada sampel, kemudian masukkan ke dalam rumus yang telah ditentukan
3.      Adapun perhitungan jumlah kuman yang terbaca, yaitu:
                              Rumus ALT = (101 – C) x 10 + (102 – C) x 100 

                                                                              2
A.    Hasil
No.
Alat Makan
ALT “angka lempeng total  (koloni/cm²)
1.
Piring
5.88
2.
Gelas
15.000

Kontrol : 5 koloni/cm²

A.    Analisa Hasil


Setelah dilakukan praktikum, kami dapat menganalisa bahwa pertumbuhan koloni bakteri pada pengencer yang tinggi diperoleh angka kuman yang tinggi, jadi semakin rendah tingkat pengencerannya maka akan diperoleh nilai angka kuman yang semakin rendah pula.Dan perhitungan pada kontrol yang seharusnya tidak terdapat kuman, karena dalam kontrol hanya terdapat pengencer steril yang tidak ditumbuhi atau ditaburi koloni bakteri, ternyata masih terdapat angka kuman yang banyak. Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena adanya kontaminasi pada saat pemeriksaan dan perlakuan.Maka dapat dilihat bahwa sampel alat makan yang  diteliti  dapat  dikatakan tidak  sehat  dan  tidak  layak  untuk  digunakan  oleh masyarakat karena melebihibatas Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya hasil pemeriksaan alat makan pada Jl. Rappocini Lorong 4 No. 31tersebut yaitu :
-          Pencucian peralatan makan, dicuci pada 1 ember air yang dilakukan hingga beberapakali pencucian (pencucian peralatan pada air yang tidak mengalir).
-          Tempat penyimpanan peralatan makan berada didekat tempat penyajian (dekat dengan pintumasuk).
-          Lap yang digunakan yaitu hanya 1 lap untuk melap alat makan yang habis dicuci, tempat penyajian, dan tempat makan, dll.
Adapun faktor lain  yang memungkinkan dapat menyebabkan keberadaan kuman (bakteri) pada alat makan AsramaPutri Jurusan Kesehatan Lingkungan tersebut yaitu dapat pula dipengaruhi dari ketidaktelitian praktikan pada saat melalukan percobaan, termasuk pelaksanaan praktikum yang tidak sesuai prinsip kerja, dalam hal ini adalah kesalahan cara pengambilan sampel serta banyak berbicara pada saat melakukan praktikum.
Akibat kontaminasi bakteri terhadap alat makan akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya tidak berhubungan langsung dengan makanan. Akan tetapi, persyaratan higiene dan sanitasi makanan salah satunya ditentukan oleh peralatan makanan. 
  



 
A.    Kesimpulan
Dari pemeriksaan usap alat makanan di simpul kan bahwa tingkat kebersihan dari alat makan yang diperiksa tidak layak dan tidak sehat digunakan untuk alat makan karena tidak memenuhi syarat Menteri Kesehatan RI No. 1096/MENKES/PER/VI/2011 bahwa alat makan tidak mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Selain itu, kami dapat mengetahui cara pemeriksaan usap alat makanan sehingga dapat mempermantap jika kita nantinya jadi petugas untuk mengawas.
  

Pemeriksaan alat usap makan

      LAPORAN PEMERIKSAAN CONTOH USAP MAKAN           OLEH                             Anisa pratiwi           :  PO7.14...