LAPORAN
PEMERIKSAAN CONTOH USAP MAKAN
OLEH
Anisa pratiwi : PO7.14.221.151.005
DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM
Khiki purnawati kasim, S.St.,M.Kes
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D-IV
A. Latar Belakang
Makanan adalah sumber energi satu-satunya bagi
manusia. Karena jumlah penduduk yang terus berkembang, maka jumlah produksi
makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila
kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan
kualitas dan kuantitas bahan pangan. Hal ini tidak boleh terjadi atau tidak
dikehendaki karena orang makan itu sebetulnya bermaksud mendapatkan energi
tetap dapat bertahan hidup, dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan
demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting (Slamet, 2009).
Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang
ditujukan untuk kebersihan dan keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya
keracunan dan penyakit pada manusia. Dengan demikian, tujuan sebenarnya dari
upaya sanitasi makanan, antara lain menjamin keamanan dan kebersihan makanan,
mencegah penularan wabah penyakit, mencegah beredarnya produk makanan yang
merugikan masyarakat, dan mengurangi tingkat kerusakan atau pembususkan pada
makanan.
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada
dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan,
peralatan pengolahan makan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higiene
perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan
perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih (Chandra, 2006).
Peranan peralatan makanan dalam
pedagang makanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip
penyehatan makanan (Food hygiene). Setiap peralatan makan (piring,
gelas, sendok) harus selalu dijaga kebersihannya setiap saat digunakan. Alat
makan (piring, gelas, sendok) yang kelihatan bersih belum merupakan jaminan
telah memenuhi persyaratan kesehatan, karena didalam alat makan (piring, gelas, sendok)
tersebut tercemar bakteri E.coli yang menyebabkan alat makan (piring, gelas, sendok)
tersebut tidak memenuhi kesehatan. Untuk itu pencucian peralatan sangat penting
diketahui secara mendasar, dengan pencucian secara baik akan menghasilkan
peralatan yang bersih dan sehat pula. Dengan menjaga kebersihan peralatan makan
(piring, gelas, sendok), berarti telah membantu mencegah pencemaran atau
kontaminasi makanan yang dikonsumsi (Djajadinigrat, 1989 dalam Pohan, 2009).
n B. Tujuan
a. Agar
dapat diketahui tingkat kebersihan dari alat makan dan masak.
b. Agar
dapat menetapkan petugas dalam melakukan pengawasan.
c. Memberikan
data untuk feed back (umpan balik) kepada pengusaha.
C. Alat dan bahan
1. Kapas lidi steril (lidi water),yaitu
lidi yang pada ujungnya dilipat kapas.
2. Sarung tangan steril/bersih.
3. Spidol huruf kecil.
4. Formulir pengambilan untuk
pemeriksaan Lab.
5. Gunting kecil.
6. Kertas cellotape.
7. Lampu spirtus.
8. Termos es.
9. Tas pembawa contoh.
10. Buku harian pengambilan contoh.
11. Sabun desinfektan.
B. Cara kerja.
1. Persiapkan sarung tangan yang steril
atau bisa dengan membasahi tangan dengan menggunakan alkohol agar tangan
menjadi steril.
2. Alat makan yang akan diperiksa
masing – masing diambil 4 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat
penyimpanan.
3. Persiapkan catatan formulir
pemeriksaan dengan membagi alat makan dalam kelompok – kelompok
4. Persiapkan lidi kapas steril,
kemudian buka kapas penutup tabung reaksi yang berisi air pepton.
5. Plumbir bagian ujung dari tabung
reaksi tersebut, kemudian masukkan lidi kapas steril ke dalamnya.
6. Lidi kapas steril dalam tabung
reaksi ditekan ke dinding tabung untuk membuang /memeras airnya, lalu angkat
dan diusapkan pada setiap alat – alat makan yang diusapkan sampai selesai.
7. Permukaan tempat
alat makan yang diusap, yaitu:
a) Cangkir
dan gelas : permukaan luar dan dalam bibir
sedalam 6 mm
b) Sendok
: permukaan bagian luar dan dalam seluruh sendok
c) Garpu
: permukaan bagian luar dan dalam alat penusuk
d) Piring
: permukaan dalam tempat makanan diletakkan
e) Mangkok
: permukaan dalam tempat makanan diletakkan
8. Cara melakukan usapan :
a) Pada
cangkir dan gelas dengan usapan mengelilingi bidang permukaan.
b) Pada
sendok dan garpu dengan usapan seluruh permukaan luar dan dalam.
c) Pada
piring dengan 2 usapan pada permukaan tempat makanan dengan menyilang siku –
siku antara usapan yang satu dengan garis usapan kedua dan menggunakan luas
jendela untuk mewakili dari luas seluruh permukaan piring.
9. Setiap bidang permukaan yang diusap dilakukan 3 kali
berturut – turut dan satu lidi kapas digunakan untuk satu kelompok alat makan
yang diperiksa.
10. Setiap hasil mengusap 1 alat makan dari sau kelompok
selalu dimasukkan ke dalam botol cairan di putar – putar dan ditekan ke
dinding, demikian dilakukan berulang – ulang sampai semua kelompok diambil
usapannya.
11. Pada usapan peralatan makan, setiap usapan alat harus mencapai luas sekitar
8 inchi persegi atau 50 cm 2 dan dilakukan 5 kali (tempat) sehingga
cukup mencapai luas 40 inchi atau 256 cm2
12. Setiap satu kelompok menggunakan 1 lidi kapas sebab yang diusapkan dengan
cara seperti no.11 di atas.
13. Setelah kelompok alat makan atau
luas permukaan peralatan masak diusap, lidi kapas dimasukkan ke dalam botol,
lidinya dipatahkan atau digunting, dan bibir tabung dipanaskan dengan api
spritus, lalu ditutup kembali dengan kapas penutupnya.
14. Tempelkan kertas label yang telah dipersiapkan, tulis nama jenis alat makan
yang telah diusap. Untuk nama pengambil, tempat pengambilan, dan tujuan
pengambilan sampel ditulis dibuku catatan yang telah disiapkan oleh pengambil.
15. Kirimkan segera ke laboratorium dengan suhu dingin untk diperiksa. Bila
tidak dapat dikirim segera, disimpan dalam tempat penyimpanan dingin.
1. Siapkan larutan pengencer NaCl 0,85%
sebanyak masing – masing 2 tabung dan 2 buah petridish yang diberi kode
101 dan 102 dan kontrol.
Catatan : Pengenceran yang digunakan adalah pengenceran 101 dan
10 2 sehingga yang digunakan yaitu:
2 tabung dan 2 petridish untuk piring
2 tabung dan 2 petridish untuk gelas
2 tabung dan 2 petridish untuk sendok
2 tabung dan 2 petridish untuk garpu
2. Ambil 1 ml larutan pengencer NaCl
dengan pipet steril pada tabung kode kontrol dan masukkan ke dalam petridish
yang juga berkode kontrol.
3. Ambil 1 ml sampel dengan pipet
steril pada tabung yang berkode 101(untuk satu jenis alat makan)
dengan dengan pipet lepas sebanyak ±25 kali dan tidak boleh ditiup.
4. Pipet 2 ml dari tabung tadi (yang
berkode 101) dan masukkan ke dalam petridish yang berkode 101
(untuk satu jenis alat makan) dan 1 ml sisanya ke tabung 102
lalu pipet lepas sebanyak ±25 kali
5. Pipet 1 ml dari tabung 102 masukkan
ke petridish yang sudah diberi kode 102.
6. Tuangi petridish yang berisi sampel
dengan nutrien agar 55˚C – 56˚C sebanyak ±15 ml
7. Digoyang-goyang agar rata dan
biarkan beku
8. Balik petridish dan masukkan ke
dalam inkubator untuk dieramkan dengan suhu 37˚C selama 1 x 24 jam
1. Keluarkan petridish yang berisi
sampel yang telah dieramkan selama 1 x 24 jam
2. Hitung jumlah kuman yang berbentuk
bulatan pada sampel, kemudian masukkan ke dalam rumus yang telah ditentukan
3. Adapun perhitungan jumlah kuman yang
terbaca, yaitu:
|
Rumus ALT = (101 – C) x
10 + (102 – C) x 100
2
A.
Hasil
Kontrol : 5 koloni/cm²
A. Analisa Hasil
Setelah
dilakukan praktikum, kami dapat menganalisa bahwa pertumbuhan koloni bakteri pada pengencer
yang tinggi diperoleh angka kuman yang tinggi, jadi semakin rendah tingkat
pengencerannya maka akan diperoleh nilai angka kuman yang semakin rendah
pula.Dan perhitungan pada kontrol yang seharusnya tidak terdapat kuman, karena
dalam kontrol hanya terdapat pengencer steril yang tidak ditumbuhi atau
ditaburi koloni bakteri, ternyata
masih terdapat angka kuman yang banyak. Hal ini terjadi, kemungkinan besar
karena adanya kontaminasi pada saat pemeriksaan dan perlakuan.Maka dapat dilihat bahwa sampel alat
makan yang diteliti dapat dikatakan tidak sehat
dan tidak layak untuk digunakan oleh masyarakat karena melebihibatas Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan tidak
boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2.
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan tingginya hasil pemeriksaan alat makan pada Jl. Rappocini Lorong 4 No. 31tersebut yaitu :
-
Pencucian peralatan makan, dicuci pada 1 ember air yang dilakukan hingga
beberapakali pencucian (pencucian peralatan pada air yang tidak mengalir).
-
Tempat penyimpanan peralatan makan berada didekat tempat penyajian (dekat
dengan pintumasuk).
-
Lap yang digunakan yaitu hanya 1 lap untuk melap alat makan yang habis dicuci,
tempat penyajian, dan tempat makan, dll.
Adapun faktor lain yang
memungkinkan dapat menyebabkan keberadaan kuman (bakteri) pada alat makan AsramaPutri Jurusan Kesehatan Lingkungan tersebut yaitu dapat
pula dipengaruhi dari ketidaktelitian praktikan pada saat melalukan percobaan,
termasuk pelaksanaan praktikum yang tidak sesuai prinsip kerja, dalam hal ini
adalah kesalahan cara pengambilan sampel serta banyak berbicara pada saat
melakukan praktikum.
Akibat kontaminasi bakteri terhadap
alat makan akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya tidak berhubungan
langsung dengan makanan. Akan tetapi, persyaratan higiene dan sanitasi makanan
salah satunya ditentukan oleh peralatan makanan. | |
||||||||||
A. Kesimpulan
Dari pemeriksaan usap alat makanan
di simpul
kan bahwa tingkat kebersihan dari alat makan yang
diperiksa tidak
layak dan tidak
sehat digunakan untuk
alat makan karena
tidak memenuhi syarat
Menteri Kesehatan RI No. 1096/MENKES/PER/VI/2011 bahwa
alat makan tidak
mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Selain itu, kami dapat mengetahui
cara pemeriksaan usap
alat makanan sehingga
dapat mempermantap jika
kita nantinya jadi
petugas untuk mengawas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar